Genggam erat tangan sahabat yang ada disebelahmu...
Sinar Mentari masih terlalu dini untuk menghangatkan pagi, tapi yakinlah genggaman tangan sang sahabat akan selalu cukup untuk menjadi pelindung bagi jiwa dan raga yang terkikis lelah dan menggigil kedinginan.
Dalam genggaman erat penuh harapan...
Rasakan dan ingatlah, karena genggaman itu yang akan jadi pelindung, penghibur, penghapus duka lara dan juga harapan bagi perjalanan panjang kita dalam Barisan Pemenang ini...
Sekarang...
Ingatlah ini...
Karena ini adalah perjalanan panjang yang akan kita tempuh bersama-sama............
Sahabat...
Kelak kita akan sama-sama merajut sebuah mimpi besar, dan kita sama-sama berjuang mewujudkannya. Kadang mimpi itu terdengar seperti omong kosong bagi mereka yang tidak suka. Tapi... Percayalah saat mimpi yang kita tuju terdengar tidak masuk akal bagi mereka yang mencela, aku akan selalu ada disampingmu, mungkin tidak dengan gagah, tapi yakinlah dibalik semua kelemahan aku berusaha memberikan genggaman hangatku untuk terus menjagamu. Akupun yakin kau begitu sahabat.
Saat kamu terisak mendengar celaan “Hahhhhhh... mau lomba kesana??? Mimpinya ketinggian ahhh”
“Kalian Mau bikin konser??? Gag mungkin ahhhhh”
Kemarilah, mendekat bersandar di bahuku, dan tumpahkan semua keluh kesahmu, menangislah sepuas-puasnya. Saat hati tak mampu mencerna kalimat penuh cela itu dengan baik. Aku akan dengan setia mendengar semua keluh kesahmu.
Percayalah semua kenangan kita saat berjuang demi sebuah mimpi, akan jadi kenangan indah dalam perjalanan panjang hidupku. Kelak saat aku duduk tersudut lelah disenja usia, dengan bangganya akan kuceritakan kepada anak cucuku, betapa hebatnya kita dahulu, saat kita berbagi demi sebuah mimpi.
Kenangan saat kita bersama-sama menyusuri jalan-jalan dengan warung tenda yang berjejer untuk mengamen. Kamu memegang gitar dengan pedenya, dan aku bernyanyi sambil sekedar bertepuk tangan, menghibur mereka yang sedang makan.
Atau...
Saat kita sama-sama terduduk lesu diantara makanan-makanan menggiurkan yang tidak boleh kita sentuh, karena akan dijual. Kadang dengan bahagianya kita berbagi senyum karena dagangan itu laku semua, tapi tak jarang kita harus terduduk lesu karena tidak laku.
Lalu kamu datang dan berbisik
“Yah sudah... belum rejekinya paling, besok-besok pasti laku semua”
Akupun mengangguk lesu, dengan sedikit kebahagiaan karena kata-kata penghiburanmu
Dan semua kenangan-kenangan lainya saat kita berlatih bersama-sama...
Bahkan memulung, demi rejeki untuk mewujudkan mimpi...
Sahabat...
Suatu saat kita pasti akan bertengkar akan hal-hal sepele yang bahkan kita tak pernah sanggup mencerna permasalahan sebenarnya. Dilain sisi mungkin dirimu bisa memahami semua amarah itu dan hanya terbujur lesu menahan sakit hati, tapi tak jarang disaat jiwa dan ragamu terlalu lemah untuk memahami maksud amarahku, kita bertengkar hebat dan saling menjatuhkan.
Suatu saat kita pasti akan bertengkar akan hal-hal sepele yang bahkan kita tak pernah sanggup mencerna permasalahan sebenarnya. Dilain sisi mungkin dirimu bisa memahami semua amarah itu dan hanya terbujur lesu menahan sakit hati, tapi tak jarang disaat jiwa dan ragamu terlalu lemah untuk memahami maksud amarahku, kita bertengkar hebat dan saling menjatuhkan.
Saat seperti itu datang, kita hanya perlu menenangkan diri dan saling
introspeksi. Kita hanya terlalu gagap menggambarkan kejenuhan dan kecapaian
yang datang mendera dan akhirnya hanya amarah yang jadi sarana melukiskannya.
Lekaslah saling memafkan kawan...
Semua kenangan manis kita, semua mimpi kita, semua harapan kita terlalu berharga jika harus dirusak dengan amarah.
Dan akhirnya Sahabat...
Percayalah kelak semua kenangan yang kita mulai hari ini akan berujung pada perpisahan yang sama-sama tak sanggup kita tolak. Saat itu, aku akan memelukmu dengan bangga dan berkata “ini tak akan pernah jadi genggaman eratku yang terakhir”. Semua jalan hidup mungkin akan memisahkan kita tapi jiwa kita akan selalu ada di tempat yang sama "NADA".
Saat kamu dengan gagahnya atau dengan anggunya mengenakan toga hitam sebagai selebrasi akhir masa studymu. Kemudian kamu duduk manis sambil menatapku yang berdiri di panggung, bernyanyi dengan bangga bagi prestasimu. Kemudian dengan senyum simpul kamu meambaikan tangan buatku.
Saat itu kamu pasti akan bergumam “hehhhh dulu aku yang nyanyi disana sekarang aku yang dinyanyiin”.
Atau jika kelak kita mengakhiri masa study bersama-sama. Kita mengenakan toga hitam dan berjalan beriringan di dalam ruangan besar dan menyaksikan adik-adik kita bernyanyi dengan bangganya diujung sana.
Sahabat...
Akhirnya hanya ini yang bisa aku bagikan saat hari ini kita akan mulai menjadi satu dalam barisan pemenang, saat kita sama-sama memulai kenangan kita, saat kta sama-sama memulai perjalanan panjang kita. Hal lain yang tak sempat aku ceritakan biarlah tetap menjadi misteri. Dan kita siap menyingkap misteri itu bersama-sama
Sahabat...
Pagi ini... kita telah menjadi bagian dalam Barisan Pemenang...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar